
Banyak pembaca St. Claverbond tentu masih ingat artikel yang saya tulis pada tahun 1934 tentang desa kecil Nanggulan. Dalam artikel tersebut ¹), saya menceritakan kepada Anda tentang usaha-usaha awal misi di sana beserta hasil-hasil pertamanya, yang memberikan harapan akan buah yang berlipat ganda di masa depan. Saya mengakhiri tulisan saya dengan menyampaikan harapan yang mendalam, agar suatu saat saya mendapat kesempatan untuk mendirikan bangunan gereja yang sederhana, namun luas dan layak, di tengah-tengah pusat misi kami di Nanggulan.
Tulisan saya mendapat tanggapan hangat di Belanda. Melalui mimbar-mimbar di gereja-gereja Yesuit kami, pembangunan gereja oleh pastor pribumi Jawa pertama ini direkomendasikan dengan sangat kepada kedermawanan para sahabat misi di Belanda. Umat Katolik dari Groningen, Amsterdam, Rotterdam, Utrecht, Maastricht, Nijmegen, serta secara khusus sumbangan yang sangat besar dari Arnhem, telah memungkinkan saya untuk memulai pembangunan. Dan hari ini saya dapat menulis kepada Anda: “Gereja Nanggulan sudah berdiri!”
Gereja ini dibangun dalam gaya arsitektur khas Jawa yang bersumber dari tata bangunan rumah-rumah Jawa. Bagian utama gereja menggunakan bentuk joglo, yaitu bentuk bangunan yang paling disukai oleh masyarakat Jawa. Bentuk bangunan ini dahulu kala secara khusus hanya diperuntukkan bagi bangsawan Jawa, namun saat ini juga digunakan oleh masyarakat Jawa yang berkecukupan walau bukan keturunan bangsawan. Konstruksi joglo ini terdiri dari denah dasar yang selalu berbentuk persegi; empat bidang atap miring yang naik ke atas bertemu di satu titik puncak—ini antara lain merupakan ciri khas arsitektur masjid Jawa—atau bertemu pada suatu (Kredit Foto & Keterangan Foto) Foto oleh A. Panudju, Yogyakarta. Gereja Nanggulan sudah berdiri! Seorang dermawan yang sangat murah hati di Arnhem, serta sahabat-sahabat misi di Amsterdam, Groningen, Maastricht, Nijmegen, Rotterdam, dan Utrecht telah memungkinkan Pastor Pribumi Jawa Pertama, Pater Fr. Xav. Satiman S.J., untuk membangun gereja ini; gereja ini mampu menampung hingga 1200 orang.
Balok bumbungan (nokbalk) yang pendek, sebagaimana dapat Anda lihat pada foto gereja kecil tersebut. Pada empat bidang atap bagian atas menyambung empat bidang atap bagian bawah. Seluruh struktur bertumpu pada empat yang disebut soko guru (pilar penyangga utama), sementara sejumlah pilar kayu tambahan berfungsi sebagai penyangga atap bagian atas dan bawah.
Untuk memperluas bangunan gereja, di bagian depan ditambahkan sebuah bangunan dengan lebar yang sama, namun dalam bentuk biasa gaya limasan. Denah dasar dari tipe limasan ini berbentuk persegi panjang dengan sisi terpanjang menghadap ke depan. Bangunan gereja selanjutnya dikelilingi oleh serambi (gaanderij) di bagian depan dan kedua sisi sampingnya. Seluruh bagian dalam membentuk satu ruangan besar dengan serambi berdinding kaca di tiga sisinya, sementara bagian belakang ditutup oleh dinding tembok. Gereja ini berukuran 22 meter (Kredit Foto & Keterangan Foto) Foto oleh A. Panudju, Yogyakarta. Yang Mulia Mgr. Willekens, S.J. memimpin pemberkatan khidmat gereja baru Nanggulan pada tanggal 5 Juli, di setiap sisi perseginya, sehingga diperkirakan mampu menampung hingga 1.200 orang dengan mudah. Bangunan ini memiliki banyak kemiripan dengan ruang penerimaan (bangsal) Sultan Yogyakarta, namun bangsal Sultan terbuka di semua sisi, serta gereja kita tidak memiliki segala hiasan dan ornamen kaya yang justru menjadikan Bangsal Kencana milik Sultan Jogja sebagai permata seni ukir Jawa.
Bagian dalam gereja terasa luas, terang, dan sejuk; pada dinding-dinding serambi dipasang jendela-jendela yang dapat diputar separuh, sementara di atas jendela terdapat celah kawat kasa yang lebar, sehingga udara sejuk dapat selalu masuk tanpa hambatan.
Orang Jawa pertama-tama mencari keindahan bentuk pada garis-garis atapnya; rumah-rumah tradisional Jawa tidak mengenal fasad (gevel) dalam pengertian Eropa. Jika hendak ditambahkan fasad kecil, hal itu tidak boleh lebih dari sekadar titik keindahan manis pada sebuah lukisan besar; oleh karena itu fasad tersebut tidak boleh mendominasi. Demikian pula maksud dari fasad gaya Yunani pada gereja ini; bagian puncak (Kredit Foto & Keterangan Foto) Foto oleh A. Panudju, Yogyakarta. Gereja Nanggulan tidak dapat menampung seluruh orang yang hadir pada hari pemberkatannya, meskipun gereja ini menyediakan kapasitas untuk 1.200 umat. Bumbungan dihiasi dengan salib terlingkar, dengan sinar melingkar menjalar ke bawah ke arah kanan dan kiri sepanjang garis bumbungan atap.
Demikianlah, wahai para sahabat misi, deskripsi teknis mengenai Gereja Nanggulan yang berhasil kami bangun berkat bantuan Anda sekalian. Melalui persembahan Anda, Anda telah menyumbangkan batu-batunya, pilar-pilarnya, ubinnya, gentengnya, dan segala hal lainnya. Kepada Anda pulalah saya berterima kasih atas seluruh perlengkapan ibadat gereja: piala (miskelk), sibori, tabernakel, monstrans, jalan salib, kasula (pakaian misa), patung-patung, buku misal, dan lain-lain.
