Gereja sebagai communio menegaskan ciri hidup umat yang communal, yang bersekutu sehati-sejiwa, yang dilandasi oleh iman akan Allah Tritunggal, yang dihidupi dan sekaligus menghidupi 4 W (witness, word, worship dan welfare), yang terus tumbuh dinamis menuju pada kesempurnaan.

Gereja sebagai communio membutuhkan fasilitator yang mengawal dan mendampingi proses dan dinamika communio menuju pada kesempurnaannya. Fasilitator itu diantaranya adalah pengurus lingkungan, prodiakon, pemandu pertemuan dan tim kerja lainnya. Oleh karena itu, bidang pewarta dan evangelisasi paroki Santa Perawan Maria tak bercela Nanggulan mengadakan kegiatan belajar bersama menjadi fasilitator (pemandu lingkungan). Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 10 Maret 2019 di gedung pelayanan pastoral. Kegiatan ini dipandu oleh Romo FX Sugiyana, Pr dan diikuti oleh 77 pemandu lingkungan.

Romo FX Sugiyana, Pr menjelaskan bahwa seorang pemandu lingkungan harus dapat:

  1. memberi arah/visi dan melihat gambaran ke depan (visioner),
  2. memiliki kemampuan partisipatif (involvement) yaitu kesediaan untuk melibatkan semakin banyak orang ,
  3. memiliki integritas diri (performance) yaitu integritas kepribadian seorang pemimpin
  4. memiliki dasar hidup rohani yang kuat (spirituality), yaitu kepemimpinannya membawa orang kepada Kristus dan menjadikan iman sebagai daya hidup pribadi maupun bersama.

Visi berkaitan dengan kualitas intelektual kepemimpinan, involvement berkaitan dengan kualitas psiko-sosial kepemimpinan, performance berkaitan dengan kualitas kepribadian kepemimpinan, dan spirituality berkaitan dengan kualitas rohani kepemimpinan.

Seorang pemandu lingkungan akan melalui proses berikut:

  1. Mengenali materi
    Materi adalah bahan yang telah tersedia untuk umat sebagai bahan pendalaman dan pengolahan bersama. Bahan itu biasanya bahan pertemuan untuk Adven, APP, BKSN, BKL, atau bahan lain yang disiapkan untuk kepentingan tertentu
  2. Mengikuti pembekalan
    Pembekalan umum dilakukan untuk mengetahui latar belakang pemilihan tema, gerak bersama di tingkat Keuskupan, hal yang mau dicapai dari pertemuan dan memberikan pokok-pokok gagasan yang hendaknya dikembangkan. Gagasan-gagasan itu kadang-kadang tidak terungkap dalam buku panduan, tetapi memberi bingkai dan arah dalam proses pertemuan.
  3. Membaca dan mendalami
    Teknik membaca yang pertama adalah skimming (meluncur)ke judul, tema, sub tema dan beberapa topik. Tujuannya untuk mendapat ide utama, ide pokok dan bisa membayangkan apa yang dibahas dalam keseluruhan isi pertemuan. Teknik kedua adalah scanning (menatap untuk mencari informasi spesifik). Orang membaca halaman demi halaman, tujuannya untuk mendapat informasi yang lebih detail dari sebuah bahan panduan

Saat memandu, seorang fasilitator harus melalui proses berikut:

  1. Mengenali materi
    Materi adalah bahan yang telah tersedia untuk umat sebagai bahan pendalaman dan pengolahan bersama. Bahan itu biasanya bahan pertemuan untuk Adven, APP, BKSN, BKL, atau bahan lain yang disiapkan untuk kepentingan tertentu
  2. Mengikuti pembekalan
    Pembekalan umum dilakukan untuk mengetahui latar belakang pemilihan tema, gerak bersama di tingkat Keuskupan, hal yang mau dicapai dari pertemuan dan memberikan pokok-pokok gagasan yang hendaknya dikembangkan. Gagasan-gagasan itu kadang-kadang tidak terungkap dalam buku panduan, tetapi memberi bingkai dan arah dalam proses pertemuan.
  3. Membaca dan mendalami
    Pemandu mempelajari dan mendalami Materi sebelum menyampaikan kepada orang lain.
  4. Memperkaya materi pendukung
    Sangat dimungkinkan dan dianjurkan pemandu mencari bahan-bahan pendukung untuk membantu, memperkaya dan memperjelas isi yang mau diolah. Bahan itu bisa berupa kisah, gambar, alat peraga, film atau lagu
  5. Memfasilitasi pertemuan
    Seorang pemandu menfasilitasi pertemuan dengan memandu agar terjadi komunikasi iman di antara peserta yang hadir. Melalui komunikasi itu, mereka saling meneguhkan.
  6. Menemukan unsur kateketis
    Dalam pertemuan moment-moment gerejawi, selalu ada unsur kateketis, yaitu refleksi iman atas pengalaman hidup konkret yang terungkapkan dalam sharing.
    Seorang pemandu perlu mengembangkan ketrampilan untuk menghubungkan dan mencari titik temu antara pengalaman sehari-hari (faktual) dengan pengalaman iman. Di sini diperlukan kitab suci atau ajaran Gereja.
  7. Membimbing pada aksi
    Pemandu membimbing agar umat memperoleh peneguhan, pembaruan dan transformasi dalam hidupnya berkat pertemuan. Umat juga diajak sampai pada aksi (batiniah maupun lahiriah).

Setelah mengikuti pembekalan ini, pemandu lingkungan di paroki Nanggulan diharapkan dapat memberikan arahan dan tujuan dari sebuah pertemuan. Pemandu dapat mengajak umat bertekun dalam doa dan sabda, menggerakkan dinamika hidup kristiani dengan cara menghadirkan kasih Kristus dalam masyarakat, serta membawa umat hidup dalam persaudaraan penuh kasih serta mewujudkannya kepada sesama.

Pembekalan Pemandu Lingkungan