Perayaan Pesta Nama Pelindung Paroki (8 Des 2019)

Paroki Nanggulan merupakan Paroki yang memilih Santa Perawan Maria Tak Bercela sebagai pelindung Paroki. Perayaan Pesta Nama ini jatuh pada tanggal 8 Desember setiap tahunnya. Perayaan Pesta Nama Santa Pelindung Gereja ini dirayakan secara sederhana karena masuk dalam lingkaran Adven.

Setelah Perayaan Ekaristi, diadakan makan bersama seluruh umat yang hadir. Hidangan disiapkan oleh masing-masing Lingkungan berupa hidangan sederhana, nasi gudangan dan lauk pauk ala kadarnya.

Hiburan untuk masyarakat umum juga digelar di area parkir yang baru, berjarak 200 meter sebelah utara kompleks gereja. Hiburan berupa kuda lumping dimulai pada jam 10.00 dan berakhir pada jam 16.00.

Adven 2019

Tujuan
Umat mampu melihat bersama sejauh mana daya ubah (transformasi) hidup beriman ke dalam sudah terjadi dan telah digiatkan dalam komunitas.

Pra Wacana Pertemuan
Gereja harus bersifat transformatif (Gereja yang berdaya ubah)! Berdaya ubah bagi seluruh anggota-anggota maupun bagi masyarakat. Gereja menjadikan anggota-anggotanya hidup dalam kesatuan kasih dengan Allah yang akan berakibat dalam relasi baru dengan sesama. Berkat kehadiran Roh Kudus, Gereja membawa seluruh anggotanya menjadi anak-anak Allah. Roh Kudus yang bekerja dalam Gereja berdaya ubah menyatukan seluruh hati anggotanya.

Paguyuban atau lingkungan kita menjadi bagian gereja yang disatukan oleh Roh Kudus. Kita disatukan hati kita oleh Roh Kudus dalam komunitas murid-murid Kristus. Gereja bukan lah segerombolan pribadi-pribadi yang tanpa bentuk tetapi sebuah persekutuan murid-murid Kristus. Persekutuan yang berkembang secara jiwa dan semangat yang sama (organis) dan cara pengaturan yang menjamin pertumbuhan dan perkembangan kominitas (organisatoris). Apakah kita mempunyai kesadaran sebagai anggota paguyuban sudah berdaya ubah (transformatif)? Segi daya ubah ini juga apakah sudah dirasakan oleh seluruh warga paguyuban? Mencari dan mengevaluasi “daya ubah” paguyuban menjadi sangat penting supaya kita semakin memuliakan Allah.

Langkah Proses Pertemuan
A. Pembuka
1. Nyanyian Pembuka
Pemandu dapat mengajak peserta membuka dengan lagu-lagu yang memberikan semangat satu kesatuan hati.

2. Doa Pembuka
Doa ini hanya salah satu alternatif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat.

Bapa yang Maha Kasih, Allah segala penghiburan, dalam Masa Adven kedua ini, utuslah terang Roh Kudus Mu, agar kami dapat bersama-sama melihat kembali, sejauh mana kesadaran sebagai komunitas atau paguyuban lingkungan mampu berdaya ubah (transformatif). Berikanlah kesadaran dalam diri kami, agar masa Adven ini dapat membuat kami semakin satu hati dalam panggilan perutusan kami, terutama panggilan menjadi lingkungan yang berdaya ubah. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

3. Penyalaan lilin Korona
Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang kedua.

P: Tuhan, terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.

U: Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama.

P: Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, para hamba-Mu yang merindukan Putera-Mu, cahaya kehidupan sejati. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putera-Mu yang menjadi penerang bagi hidup kami. Bagaikan nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus. Semoga kami semua mampu menjadi pribadi-pribadi yang guyub-rukun serta memiliki daya ubah untuk menyalakan sukacita bagi sesama dalam kesaksian hidup kami setiap hari. Demi Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, sepanjang segala masa.

U: Amin

4. Pengantar Pertemuan
Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut:

Bapak dan Ibu yang terkasih, dalam Pertemuan Sarasehan Adven kedua ini, kita akan diajak melihat, apakah segi daya ubah (transformatif) iman, sudah dirasakan bagi seluruh komunitas atau paguyuban. Apakah kita sudah satu hati, bersama-sama sebagai pribadi dan paguyuban memberikan yang terbaik bagi lingkungan kita.

Maka, marilah dengan semangat Advent ini, kita balut kebersamaan sebagai lingkungan atau komunitas. Kita satukan hati dan satukan suara memuliakan Allah, agar kita sebagai pribadi-pribadi mampu mendukung lingkungan kita mempunyai daya ubah bagi masyarakat sekitar.

B. Inspirasi
1. Mengapresiasi Daya Ikat dan Keguyuban Lingkungan
Pemandu dapat mengawali refleksi dengan membaca ungkapan Paus Fransiskus tentang hidup komunitas.

Paus Fransiskus memberi pesan pada sebuah akhir wawancara yang dilakukan oleh Antonio Spadaro, S.J., seorang imam, pemimpin redaksi La Civiltà Cattolica. La Civiltà Cattolica merupakan jurnal Jesuit Italia. Dikutip kembali dalam A Papal Perspective on Community, dikatakan demikian

“Dalam hidup saya, saya telah belajar bahwa satusatunya cara untuk tumbuh dalam keyakinan saya adalah dengan orang lain — dalam kata-kata John Donne, tidak ada manusia yang cukup untuk dirinya sendiri”. Komunitas adalah cara kami mencapai pertumbuhan nilai-nilai yang kami rasa mungkin penting bagi kami — apa pun itu. Perubahan tidak akan berakar sampai kita merendahkan diri, menemukan cara untuk memberikan layanan kepada komunitas dan kepercayaannya, dan berusaha untuk menjaga komunitas tetap bersatu.”

Pesan itu, dalam Masa Adven kedua kita menjadi penting untuk disadari. Kita diajak menyongsong kehadiran Juru Selamat dalam kesatuan hati sebagai komunitas atau paguyuban di lingkungan. Dalam satu hati, sebagai Orang Katolik yang transformatif.

No Pernyataan dan Refleksi Penilaian komunitas*
Ada Teratur (Intensselalu) Tidak Teratur (kadangkadang) Tidak Ada
1. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui alat komunikasi lainnya.
2. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur dalam bergiat dengan acara-acara moment Gerejawi dan Kebersamaan lainnya.
3. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur memperhatikan para anggotannya yang sedang mengalami kesusahan, sakit dan permasalahan.
4. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur dalam mendukung keluarga-keluarga dalam pendidikan iman menggerejanya, baik bersifat Liturgis maupun NonLiturgis.
5. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur mendukung kegiatan-kegiatan yang semakin mengakrabkan dan meningkatkan kebersamaan dari rekoleksi hingga rekreasi.
6. Apakah sejauh ini, lingkungan teratur berusaha memberdayakan pribadi dan perkembangan bersama dengan berbagai macam cara.

Maka, marilah kita evaluasi komunitas kita, apakah sudah berdaya ubah ke dalam:

Penilaian komunitas* Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sejauh mana lingkungan mempunyai daya ubah (transformatif) dalam lingkup internal.Penilaian ini, dapat diberi tanda centang (V) pada kolom yang dimaksud. Pemandu diharapkan dapat merekap hasilnya lalu dimasukkan dalam Scan QR Code berikut ini, untuk masukan ke Keuskupan.

Untuk memperkaya pertemuan, hasil rekap juga dapat dinilai dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Teratur, mempunyai skor 6
  2. Tidak Teratur, mempunyai skor 3
  3. Tidak Ada, mempunyai skor 0

Jika dijumlahkan, skor tertinggi yaitu 36, maka rentangnya sebagai berikut:

  1. Skor 30 – 36, lingkungan menampakkan tanda-tanda GUYUB
  2. Skor 18 – 29, lingkungan menampakkan tanda-tanda BIASA SAJA
  3. Skor 0 – 17, lingkungan menampakkan tanda-tanda LEMAH, KURANG GUYUB.

2. Pendalaman Bersama
Pemandu dapat mengajak umat mengevaluasi sebagai berikut:

  1. Berdasarkan hasil penilaian lingkungan Anda? Bagaimanakah tanggapan Anda, Berikanlah pandangan Anda !
  2. Dalam wujud apa saja kesatuan hati yang sudah terjadi di lingkungan Anda untuk mewujudkan daya ubah iman baik ke dalam maupun keluar?

C. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan
Pemandu dapat mengajak umat memperkaya dan meneguhkan refleksi pengalaman hidup dengan melihat kembali renungan bacaan masa Adven Pertama.

1. Kutipan Kitab Suci
Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Roma 15: 4-9

Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikanNya kepada nenek moyang kita, dan untuk memungkinkan bangsabangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: “Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.”

2. Renungan dan Simpul
Pendamping dapat menyampaikan point-point reflektif untuk memperkaya/melengkapi pertemuan.

  • Dalam bacaan Roma 15: 4-9, Paulus menegaskan hendaklah kita menerima satu dengan yang lain, demi kemuliaan Allah. Bukan hanya demi orang itu sendiri, tetapi tujuan bersamanya. Maka, kebersamaan visi dalam komunitas atau paguyuban menjadi daya dorong agar kita mampu mempunyai daya ubah, baik keluar maupun ke dalam.
  • Melalui bacaan itu, Paulus juga mendorong kita untuk saling memberikan motivasi satu sama lainnya. Paulus mengajak bertekun dalam kebersamaan. Rasul Paulus juga mengharapkan dan menghimbau agar komunitas atau paguyuban hidup dalam kerukunan. Keberagaman latar belakang, tingkat ekonomi, suku, pandangan, bahkan agama tidaklah menjadi penghalang kesatuan untuk memuji dan memuliakan Allah.
  • Keragaman dalam satu komunitas atau paguyuban adalah kekayaan yang patut disyukuri. Keragaman dalam satu komunitas atau paguyuban, tentunya akan memberikan nilai tambah pada komunitas atau paguyuban itu sendiri untuk semakin menjadi komunitas yang berdaya ubah .
  • Demikian halnya aneka macam pribadi dalam komunitas atau paguyuban, membuat komunitas menjadi lebih beragam dan berdaya. Maka, pertumbuhan komunitas atau paguyuban dalam Gereja kita, selalu dua arah sekaligus, baik internal maupun eksternal. Secara internal, kita harus bertumbuh dan berdaya ubah dalam pribadi-pribadi yang ada, mengalami perkembangan baik secara perseorangan maupun kebersamaan. Begitu juga secara eksternal, keada-an dan ke-berada-an suatu komunitas kita sebagai umat beriman haruslah memiliki dampak dalam hidup kemasyarakatan.

D. Penegasan Bersama dan Penutup
Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan!

1. Pengendapan
Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit.
Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi:
Daya ubah macam apa yang akan dapat kita kembangkan dalam hidup di tengah lingkungan kita, khususnya pribadi kita?
Ajakan untuk berdoa:
Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita dalam masa Adven ini, satu hati, satu keyakinan untuk semakin memuliakan Allah. Kita harus mulai membangun juga para pribadi dan komunitas Gereja kita, agar nantinya siap senantiasa hadir di masyarakat. Berdoalah agar rahmat perutusan yang berdaya Ubah terwujud dalam kehidupan kita.
Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa “Bapa Kami”.

2. Doa Penutup
Bapa Mahakarya, kami bersyukur karena hari ini Engkau telah membawa kami satu hati menjadi orang dan komunitas beriman yang berani hadir dan berdampak baik bagi kami semua satu komunitas dan masyarakat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengembangkan hidup kami dengan Roh Kudus-Mu untuk semakin memuliakan-Mu. Semoga untuk hari-hari mendatang kami semakin berani membangun dan mewujudkan komunitas atau paguyuban yang berdaya ubah, baik ke dalam maupun keluar. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, PutraMu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.

3. Nyanyian Penutup
Pemandu dapat mengajak peserta menutup pertemuan dengan lagu-lagu yang memberikan semangat terbuka bagi masyarakat sekitarnya.

Download Panduan Adven 2019

Lomba Memancing dalam rangka Sylvester Day 2019

Minggu, 24 November 2019, OMK Paroki Nanggulan beserta beberapa pengurus misdinar mengadakan Lomba memancing dalam rangka Sylvester day 2019. Perlombaan ini dipilih karena untuk menjalin kerukunan dengan warga sekitar Nanggulan. Selain itu juga untuk membangun kekompakan antar anggota Omk dan misdinar.
Lomba ini memanfaatkan 150 meter selokan karang / belakang Gereja St Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan.
Peserta lomba berjumlah 120 orang, tidak hanya orang nasrani saja tetapi diikuti oleh warga umum sekitar Nanggulan. Pelaksanaan lomba dimulai dari jam 09.00-12.30 WIB. Teknis dari lomba ini yaitu tempat memancing dibagi menjadi tiga sekat dengan setiap sekat masing-masing diisi dengan dua maskot perpita. Pemenang lomba ditentukan dengan pengangkatan tiga maskot berpita tercepat. Lomba berjalan dengan lancar, tiga maskot terangkat hanya dalam hitungan 30 menit saja setelah itu diadakan mancing bebas. Pemenang lomba memancing yaitu Juara pertama saudara Yanto disekat C, juara kedua Tri disekat B, dan juara ketiga Endro disekat A.Selain itu beberapa peserta mendapatkan doorprize.Peserta sangat sangat antusias mengikuti perlombaan ini dibuktikan banyak usulan untuk diadakannya lagi acara seperti ini ditahun depan.

Penyegaran Liturgi 2019

Pada hari Kamis, 21 November 2019 diadakan penyegaran liturgi di Paroki Nanggulan. Narasumber kegiatan ini adalah Romo Suwondo yang merupakan Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang.

Kegiatan ini diikuti juga dari paroki di luar paroki Nanggulan. Kegiatan ini dihadiri oleh 114 orang Dari 140 peserta yang telah mendaftar .

Pembekalan Pemandu Lingkungan

Gereja sebagai communio menegaskan ciri hidup umat yang communal, yang bersekutu sehati-sejiwa, yang dilandasi oleh iman akan Allah Tritunggal, yang dihidupi dan sekaligus menghidupi 4 W (witness, word, worship dan welfare), yang terus tumbuh dinamis menuju pada kesempurnaan.

Gereja sebagai communio membutuhkan fasilitator yang mengawal dan mendampingi proses dan dinamika communio menuju pada kesempurnaannya. Fasilitator itu diantaranya adalah pengurus lingkungan, prodiakon, pemandu pertemuan dan tim kerja lainnya. Oleh karena itu, bidang pewarta dan evangelisasi paroki Santa Perawan Maria tak bercela Nanggulan mengadakan kegiatan belajar bersama menjadi fasilitator (pemandu lingkungan). Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 10 Maret 2019 di gedung pelayanan pastoral. Kegiatan ini dipandu oleh Romo FX Sugiyana, Pr dan diikuti oleh 77 pemandu lingkungan.

Romo FX Sugiyana, Pr menjelaskan bahwa seorang pemandu lingkungan harus dapat:

  1. memberi arah/visi dan melihat gambaran ke depan (visioner),
  2. memiliki kemampuan partisipatif (involvement) yaitu kesediaan untuk melibatkan semakin banyak orang ,
  3. memiliki integritas diri (performance) yaitu integritas kepribadian seorang pemimpin
  4. memiliki dasar hidup rohani yang kuat (spirituality), yaitu kepemimpinannya membawa orang kepada Kristus dan menjadikan iman sebagai daya hidup pribadi maupun bersama.

Visi berkaitan dengan kualitas intelektual kepemimpinan, involvement berkaitan dengan kualitas psiko-sosial kepemimpinan, performance berkaitan dengan kualitas kepribadian kepemimpinan, dan spirituality berkaitan dengan kualitas rohani kepemimpinan.

Seorang pemandu lingkungan akan melalui proses berikut:

  1. Mengenali materi
    Materi adalah bahan yang telah tersedia untuk umat sebagai bahan pendalaman dan pengolahan bersama. Bahan itu biasanya bahan pertemuan untuk Adven, APP, BKSN, BKL, atau bahan lain yang disiapkan untuk kepentingan tertentu
  2. Mengikuti pembekalan
    Pembekalan umum dilakukan untuk mengetahui latar belakang pemilihan tema, gerak bersama di tingkat Keuskupan, hal yang mau dicapai dari pertemuan dan memberikan pokok-pokok gagasan yang hendaknya dikembangkan. Gagasan-gagasan itu kadang-kadang tidak terungkap dalam buku panduan, tetapi memberi bingkai dan arah dalam proses pertemuan.
  3. Membaca dan mendalami
    Teknik membaca yang pertama adalah skimming (meluncur)ke judul, tema, sub tema dan beberapa topik. Tujuannya untuk mendapat ide utama, ide pokok dan bisa membayangkan apa yang dibahas dalam keseluruhan isi pertemuan. Teknik kedua adalah scanning (menatap untuk mencari informasi spesifik). Orang membaca halaman demi halaman, tujuannya untuk mendapat informasi yang lebih detail dari sebuah bahan panduan

Saat memandu, seorang fasilitator harus melalui proses berikut:

  1. Mengenali materi
    Materi adalah bahan yang telah tersedia untuk umat sebagai bahan pendalaman dan pengolahan bersama. Bahan itu biasanya bahan pertemuan untuk Adven, APP, BKSN, BKL, atau bahan lain yang disiapkan untuk kepentingan tertentu
  2. Mengikuti pembekalan
    Pembekalan umum dilakukan untuk mengetahui latar belakang pemilihan tema, gerak bersama di tingkat Keuskupan, hal yang mau dicapai dari pertemuan dan memberikan pokok-pokok gagasan yang hendaknya dikembangkan. Gagasan-gagasan itu kadang-kadang tidak terungkap dalam buku panduan, tetapi memberi bingkai dan arah dalam proses pertemuan.
  3. Membaca dan mendalami
    Pemandu mempelajari dan mendalami Materi sebelum menyampaikan kepada orang lain.
  4. Memperkaya materi pendukung
    Sangat dimungkinkan dan dianjurkan pemandu mencari bahan-bahan pendukung untuk membantu, memperkaya dan memperjelas isi yang mau diolah. Bahan itu bisa berupa kisah, gambar, alat peraga, film atau lagu
  5. Memfasilitasi pertemuan
    Seorang pemandu menfasilitasi pertemuan dengan memandu agar terjadi komunikasi iman di antara peserta yang hadir. Melalui komunikasi itu, mereka saling meneguhkan.
  6. Menemukan unsur kateketis
    Dalam pertemuan moment-moment gerejawi, selalu ada unsur kateketis, yaitu refleksi iman atas pengalaman hidup konkret yang terungkapkan dalam sharing.
    Seorang pemandu perlu mengembangkan ketrampilan untuk menghubungkan dan mencari titik temu antara pengalaman sehari-hari (faktual) dengan pengalaman iman. Di sini diperlukan kitab suci atau ajaran Gereja.
  7. Membimbing pada aksi
    Pemandu membimbing agar umat memperoleh peneguhan, pembaruan dan transformasi dalam hidupnya berkat pertemuan. Umat juga diajak sampai pada aksi (batiniah maupun lahiriah).

Setelah mengikuti pembekalan ini, pemandu lingkungan di paroki Nanggulan diharapkan dapat memberikan arahan dan tujuan dari sebuah pertemuan. Pemandu dapat mengajak umat bertekun dalam doa dan sabda, menggerakkan dinamika hidup kristiani dengan cara menghadirkan kasih Kristus dalam masyarakat, serta membawa umat hidup dalam persaudaraan penuh kasih serta mewujudkannya kepada sesama.

APP Remaja Paroki Nanggulan

Sabtu, 9 Maret 2019 telah diselenggarakan Pertemuan APP pertama kategori remaja di paroki Nanggulan. Pertemuan ini dihadiri sekitar 20 remaja . Pada awal pertemuan, pemandu menyampaikan tema APP tahun 2019 yaitu ” Makin Tergerak untuk Berbagi Berkat”, serta menyampaikan tentang tema pertemuan pertama yaitu “Syukur Atas Rahmat Belas Kasih Allah”.

Pendalaman iman diambil dari Kejadian 6:13-20; 7:16-20 ; 8:14-17 mengenai bahtera Nabi Nuh. Dalam Permenungan ini pendamping mengajak anak-anak untuk berbagi pengalaman (sharing), apa yang pernah dilakukan atau dialami atas Kasih Tuhan bagi dirinya. Pendamping mengajak anak-anak untuk mendalami, bacaan kitab suci. Hasil refleksi pendalaman bacaan Kitab Suci diperoleh :

  1. Dari Kisah Nabi Nuh kita diajak untuk selalu bersyukur atas belas kasih rahmat Tuhan di dalam hidup kita.
  2. Selalu bersyukur karena kita semua ini adalah umat pilihan Tuhan yang diberi kesempatan untuk dapat menikmati Kehidupan ini.
  3. Selalu berbuat baik, menjadi anak Tuhan dalam segala keadaan.
  4. Kita ini umat pilihan Tuhan.

Pendamping kemudian mengajak anak-anak remaja membuat celengan APP berbentuk bahtera dari botol bekas. Alat dan bahan yang digunakan adalah botol plastik, stick es krim, isolasi, double tape, kertas lipat, gunting, cutter, dan lem.

Remaja paroki tampak antusias dan terlibat aktif selama mengikuti pertemuan APP. Setelah mengikuti kegiatan ini, remaja paroki diharapkan dapat menyisihkan sebagian rejekinya untuk berbagi berkat kepada sesama yang membutuhkan.